Screemo – Rantis Brimob kembali menjadi sorotan publik usai tragedi dalam demonstrasi 27 Agustus 2025. Salah satu kendaraan taktis milik Brimob disebut melindas seorang pengemudi ojek online yang tidak sedang berunjuk rasa. Insiden itu mengundang diskusi nasional soal apa sebenarnya fungsi dan jenis dari Rantis Brimob. Kendaraan ini bukan sembarang mobil lapis baja, melainkan dirancang khusus untuk mendukung berbagai operasi Polri, mulai dari pengendalian massa, pengamanan tamu negara, hingga penanggulangan terorisme. Dirancang dengan material baja tahan api dan peluru, rantis mampu menembus kondisi ekstrem di lapangan. Dengan investasi mencapai hampir dua triliun rupiah selama 2020 hingga 2024, Polri mengakuisisi hampir seratus unit kendaraan ini. Harga satuan berkisar dari tiga hingga tujuh puluh lima miliar rupiah, tergantung spesifikasi. Tak hanya kuat secara fisik, fungsi kendaraan ini pun disesuaikan dengan berbagai kebutuhan operasional, menjadikannya bagian penting dalam setiap misi taktis.
Rantis Brimob memiliki beragam jenis yang disesuaikan dengan kondisi lapangan dan tujuan operasi. Pertama adalah Water Canon, kendaraan berbasis truk yang dilapisi baja dan dirancang untuk mendukung kavaleri. Dilengkapi dua kanon air, kendaraan ini digunakan untuk membubarkan massa dengan tekanan tinggi. Selanjutnya ada Rantis SAR yang digunakan dalam misi penyelamatan di medan ekstrem. Dengan sistem 4×4 dan tenaga mesin besar, kendaraan ini mampu menjangkau area bencana dengan daya angkut yang besar. Rantis Public Address dirancang untuk komunikasi massa, membawa pengeras suara dan lampu sorot agar bisa dipakai saat gangguan ketertiban. Jenis terakhir adalah Rantis APC yang sangat multifungsi. Kendaraan ini dipakai dalam evakuasi VIP atau saat terjadi kerusuhan. Dilengkapi sistem CCTV dan pelindung kaca, APC memiliki mesin diesel tangguh dan bisa melaju cepat di berbagai kondisi jalan.
“Baca juga: Nokia Cari Mitra Baru, Kesempatan Langka untuk Ikut Bangkit Bersama Raksasa Teknologi!”
Setiap Rantis Brimob dibekali dengan teknologi canggih dan konstruksi yang tahan banting. Baja khusus digunakan untuk melindungi pengemudi dan penumpang dari ancaman luar. Bahkan, beberapa unit dilengkapi dengan sistem runflat tire yang memungkinkan kendaraan tetap melaju meski bannya rusak. Kendaraan jenis Water Canon mampu menampung ribuan liter air dan mengarahkannya secara presisi berkat joystick otomatis. Di sisi lain, rantis SAR memiliki kemampuan menerobos lumpur atau puing berkat torsi dan daya tahan tinggi. Lampu sorot dan sirene terintegrasi di berbagai tipe kendaraan, memberikan sinyal yang jelas saat operasi berlangsung. Untuk menunjang komunikasi, beberapa rantis dilengkapi sistem audio eksternal. Mesin-mesin diesel berkapasitas besar dipilih agar tetap stabil digunakan dalam jarak jauh. Teknologi yang tertanam membuat kendaraan ini tak hanya tangguh, tetapi juga efisien digunakan dalam misi berisiko tinggi.
“Simak juga: Xiaomi HyperOS 3 Resmi Meluncur! Android 16 & Fitur Gila-Gilaan Bikin Ngiler!”
Di lapangan, Rantis Brimob kerap digunakan dalam berbagai situasi nyata, mulai dari demonstrasi besar, kunjungan pejabat tinggi, hingga penanganan bencana. Dalam demonstrasi, rantis digunakan untuk mencegah kerusuhan atau evakuasi pasukan secara aman. Water Canon sering menjadi pilihan utama dalam meredam massa tanpa kontak langsung. Pada momen-momen rawan teror, APC digunakan untuk membawa personel bersenjata lengkap ke lokasi yang dinilai membahayakan. Dalam misi penyelamatan, rantis SAR menjadi kendaraan andalan untuk menjangkau lokasi sulit dijangkau kendaraan biasa. Selain itu, kendaraan ini juga dimanfaatkan dalam patroli-patroli skala besar yang membutuhkan daya jelajah tinggi dan keamanan ekstra. Operasi keamanan di Papua dan beberapa daerah konflik pun turut melibatkan berbagai rantis tersebut. Dengan segala fungsinya, rantis menjadi aset vital dalam menjaga stabilitas keamanan nasional secara menyeluruh.
Meski fungsinya sangat penting, kehadiran Rantis Brimob tidak lepas dari kontroversi. Insiden yang menewaskan Affan Kurniawan menjadi contoh nyata bagaimana penggunaan kendaraan ini bisa berdampak fatal jika tidak dikendalikan dengan cermat. Tuntutan dari publik agar pengoperasian rantis diawasi lebih ketat terus meningkat. Muncul pertanyaan soal prosedur standar dalam penggunaan rantis di tengah keramaian. Beberapa pihak menganggap kehadiran kendaraan tempur dalam konteks sipil terlalu berlebihan, terutama ketika demonstrasi berlangsung damai. Namun, Polri menegaskan bahwa pengoperasian rantis telah melalui pelatihan dan regulasi ketat. Masyarakat pun berharap evaluasi menyeluruh dilakukan agar insiden serupa tidak terulang. Diskusi tentang transparansi anggaran dan efektivitas kendaraan ini pun kembali mencuat. Dalam situasi ini, penting bagi institusi keamanan untuk menjaga keseimbangan antara kekuatan dan pendekatan humanis saat menjalankan tugas.