
Screemo – Mengubah Pengalaman Pelanggan di Toko dengan Gamifikasi – Persaingan kualitas tampilan membuat produsen smartphone gencar menonjolkan fitur layar, termasuk klaim soal perbedaan layar HDR SDR yang diklaim mampu menghadirkan gambar lebih hidup dan realistis dibanding layar standar.
Istilah perbedaan layar HDR SDR merujuk pada dua standar tampilan yang berbeda dalam cara menampilkan rentang warna dan kecerahan. SDR atau Standard Dynamic Range adalah standar lama yang masih sangat umum digunakan di banyak konten dan perangkat. HDR atau High Dynamic Range membawa rentang dinamis yang lebih luas, baik dari sisi kecerahan maupun detail bayangan.
Pada layar SDR, area terang dan gelap sering terlihat datar, sehingga detail di bagian paling cerah dan paling gelap bisa hilang. Sementara itu, layar HDR berupaya menjaga detail di kedua area tersebut. Akibatnya, tampilan langit yang cerah, sumber cahaya, hingga objek di area bayangan tampak lebih nyata.
Untuk bisa menikmati manfaat HDR, dibutuhkan kombinasi tiga hal: layar yang mendukung HDR, konten yang sudah dibuat dalam format HDR, dan aplikasi atau sistem yang dapat memutar konten tersebut dengan benar.
Pembahasan perbedaan layar HDR SDR tidak lepas dari cara kerja teknologi HDR itu sendiri di smartphone. HDR memanfaatkan metadata yang membawa informasi tambahan tentang bagaimana konten seharusnya ditampilkan. Metadata ini memberi tahu layar tingkat kecerahan maksimum, kontras, dan rentang warna yang ideal.
Smartphone dengan dukungan HDR umumnya memiliki panel yang mampu mencapai kecerahan puncak tinggi, misalnya di atas 600 nit atau bahkan 1.000 nit. Selain itu, mereka sering mendukung gamut warna lebih luas seperti DCI-P3. Kombinasi kecerahan dan gamut warna yang lebih lebar membuat warna tampak lebih kaya tanpa mudah “pucat” di area terang.
Konten video HDR biasanya dibuat dengan standar seperti HDR10, HDR10+, atau Dolby Vision. Standar ini menentukan bagaimana informasi warna dan kecerahan dikodekan. Sementara itu, sistem operasi akan menyesuaikan sinyal tersebut agar cocok dengan kemampuan panel, sehingga hasil akhir tetap nyaman dilihat.
Dari sudut pandang pengguna, perbedaan layar HDR SDR paling terasa ketika menonton film, serial, atau video streaming yang memang mendukung HDR. Adegan dengan kontras tinggi, seperti malam bertabur lampu kota atau matahari terbenam, akan terlihat jauh lebih dramatis pada layar HDR.
Pada layar SDR, area lampu bisa tampak “meledak” menjadi putih tanpa detail. Di layar HDR, lampu-lampu itu tetap terang namun masih menyisakan tekstur, sementara area gelap di sekitarnya tidak sepenuhnya menjadi hitam pekat tanpa informasi. Karena itu, pengalaman menonton terasa lebih sinematik.
Selain video, beberapa gim mobile modern juga mulai memanfaatkan HDR. Warna lingkungan, efek cahaya, dan detail tekstur menjadi lebih menonjol. Meski begitu, tidak semua orang langsung menyukai tampilan HDR, karena sebagian pengguna menganggapnya terlalu kontras atau terlalu terang jika tidak diatur dengan benar.
Baca Juga: panduan resmi memahami standar teknologi HDR modern
Meskipun menjanjikan kualitas visual lebih baik, perbedaan layar HDR SDR juga menyimpan beberapa kompromi. Salah satu isu utama adalah konsumsi daya baterai. Untuk menampilkan konten HDR, layar sering bekerja pada tingkat kecerahan lebih tinggi, yang otomatis meningkatkan penggunaan energi.
Selain itu, tidak semua konten mendukung HDR. Banyak video di media sosial atau platform streaming masih menggunakan SDR. Dalam kondisi ini, layar HDR akan tetap menampilkan konten dengan standar biasa, sehingga keunggulannya tidak selalu terasa setiap saat.
Masalah lain adalah konsistensi. Setiap produsen memiliki cara sendiri dalam menerapkan pemetaan nada (tone mapping). Akibatnya, tampilan HDR di dua smartphone berbeda bisa tampak tidak sama walaupun memutar konten yang identik. Karena itu, preferensi pribadi dan pengaturan manual tetap memegang peran penting.
Saat mempertimbangkan perbedaan layar HDR SDR dalam proses memilih smartphone, kebiasaan penggunaan menjadi faktor utama. Jika Anda sering menonton film atau seri berkualitas tinggi dari layanan streaming yang banyak menyediakan konten HDR, layar HDR memberi nilai tambah yang jelas.
Bagi penggemar fotografi mobile, layar HDR juga membantu saat meninjau hasil foto, terutama foto format HDR atau potret dengan kontras kuat. Detail di area terang dan gelap lebih mudah dinilai, sehingga proses penyuntingan menjadi lebih akurat.
Namun, jika penggunaan utama hanya untuk chat, media sosial, dan browsing ringan, layar SDR berkualitas baik masih sangat memadai. Panel dengan resolusi tajam, reproduksi warna akurat, dan kecerahan cukup untuk pemakaian luar ruangan, sering kali lebih penting daripada sekadar label HDR di spesifikasi.
Agar perbedaan layar HDR SDR terasa optimal, pengguna dapat menyesuaikan beberapa pengaturan di smartphone. Pertama, pastikan fitur HDR diaktifkan di menu tampilan atau pengaturan aplikasi streaming. Beberapa layanan mengharuskan kualitas video diatur ke level tertinggi agar HDR aktif.
Kedua, perhatikan pengaturan kecerahan otomatis. Dalam banyak kasus, HDR terlihat terbaik saat kecerahan tidak terlalu rendah. Meski begitu, kecerahan maksimum terus-menerus bisa membuat mata cepat lelah. Menemukan titik tengah yang nyaman menjadi kunci.
Ketiga, nonaktifkan mode tampilan yang terlalu “menghias” warna jika Anda ingin melihat representasi yang lebih akurat. Mode sinematik atau natural biasanya lebih cocok untuk menikmati konten HDR dibanding mode super-saturasi yang membuat warna berlebihan.
Tren adopsi HDR menunjukkan bahwa perbedaan layar HDR SDR akan semakin relevan di masa depan. Seiring turunnya harga panel berkualitas tinggi, fitur HDR perlahan menjadi standar di kelas menengah, bukan hanya flagship.
Platform streaming besar juga terus memperluas katalog konten HDR, sehingga pengguna mendapatkan lebih banyak manfaat nyata dari perangkat yang dimiliki. Di sisi lain, teknologi pemrosesan gambar dan efisiensi panel terus berkembang untuk mengurangi konsumsi daya.
Pada akhirnya, memahami perbedaan layar HDR SDR membantu konsumen membuat keputusan pembelian yang lebih bijak. Dengan menyeimbangkan kebutuhan, anggaran, dan preferensi visual, pengguna dapat memilih smartphone yang memberikan pengalaman tampilan terbaik untuk kegiatan sehari-hari.